2.1
Makna
Masa Remaja
Berdasarkan
Ilmu pengetahuan, makna masa remaja ini dapat menimbulkan banyak penafsiran.
Hal ini disebabkan oleh sifat tafsiran itu sangat bergantung pada dasar
pandangan (assumption) dan konsep
atau kerangka dasar teoritis (conceptual
frame work) serta norma yang digunakan (frame
of references) oleh penafsir atau sarjana yang bersangkutan. Maka dari itu
terdapat sedikit perbedaan dari setiap penafsir mengenai masa ini tergantung
pada sudut pandang yang penafsir tersebut. Berikut ini beberapa pengertian dari
masa remaja :
1)
Freud
(yang teori kepribadiannya berorientasikan kepada seksual libido ; dorongan
seksual), menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang
mempunyai bentuk yang definitif karena perpaduan (unifikasi) hidup seksual yang
banyak bentuknya (polymorph) dan
infantile (sifat kekanak-kanakan).
2)
Charlotte
Buhler (yang membandingkan proses pendewasaan pada hewan dan manusia),
menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. Individu menjadi
gelisah dalam kesunyian, lekas marah dan bernafsu dan dengan ini tercipta
syarat-syarat untuk kontak dengan individu lain.
3)
Spranger
(yang teori kepribadiannya berorientasikan kepada sikap individu terhadap
nilai-nilai), menafsirkan masa remaja itu sebagai suatu masa pertumbuhan dengan
perubahan struktur kejiwaan yang fundamental ialah kesadaran akan aku,
berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan ke arah dan ke
dalam berbagai lapangan hidup.
4)
Hoffman
(berorientasikan kepada teori Resonansi Psikis), menafsirkan bahwa masa remaja
itu merupakan suatu masa pembentukkan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang
dialami individu.
5)
Conger
(yang menekankan pada pendekatan interdisipliner dalam pemahamannya terhadap
kehidupan remaja masa kini) sejalan dengan pendapat Erikson (yang teori
kepribadiannya berorientasi kepada psychological
crisis development), menafsirkan masa remaja itu sebagai suatu masa yang
amat kritis yang mungkin dapat merupakan the
best of time and the worst of time.
2.2
Batasan
Usia Masa Remaja
Terdapat
keragaman dalam menetapkan batasan dan ukuran tentang kapan mulainya dan kapan
berakhirnya masa remaja itu. Oleh karena itu beberapa ahli mengemukakan batasan remaja sebagai
berikut :
Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa
dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja
sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang
diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Secara tentatif
pula para ahli umumnya sependapat bahwa rentangan masa remaja itu berlangsung
dari sekitar 11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran
seseorang.
Dalam rentangan
periode yang cukup panjang (6-7 tahun) itu ternyata terdapat beberapa indikator
yang menunjukkan perbedaan yang berarti (meskipun bersifat gradual, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif) dalam karakteristik dari beberapa aspek perilaku
dan pribadi pada tahun-tahun permulaan dan tahun-tahun terakhir pada masa
remaja itu. Oleh karena itu, para ahli juga cenderung mengadakan pembagian lagi
ke dalam masa remaja awal (early
adolescent, puberty) dan remaja akhir (late
adolescent, adolescent) yang mempunyai rentangan waktu antara 11-13 sampai
14-15 tahundan 14-16 sampai 18-20 tahun. Charlotte
Buhler malah menambahkan suatu masa transisi ke periode ini ialah masa
pre-puberteit (pra-remaja) yang berkisar sekitar 10-12 tahun dari kalender
kelahiran yang bersangkutan.
Terdapat pula variasi mengenai irama dan tempo
perkembangan itu (mereka yang tinggal di
daerah yang banyak menerima sinar matahari lebih cepat matang dibandingkan di
daerah lainnya; juga yang tinggal di daerah pedesaan dapat dipandang lebih
cepat “dewasa” dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan.
2.3
Gambaran
umum profil perilaku dan pribadi remaja
Sebagaimana telah diketahui, para ahli membagi masa remaja
ke dalam dua periode yaitu masa remaja awal (early adolescent, puberty) dan remaja akhir (late adolescent, adolescent) yang mempunyai rentangan waktu antara
11-13 sampai 14-15 tahundan 14-16 sampai 18-20 tahun. Oleh karena itu
karakteristik, perilaku dan pribadi pada kedua masa ini pun berbeda. Berikut
ini karakteristik perilaku dan pribadi
pada kedua masa tersebut.
1)
Fisik dan perilaku
psikomotorik.
o Laju
perkembangan secara umum berlaju sangat pesat.
o Proporsi
ukuran tinggi dan berat badan sering kurang seimbang.
o Munculnnya
ciri-ciri sekunder, disertai mulai aktifnnya sekresi kelenjar jenis, gerak
gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan.
o Aktif
dalam berbagai jenis cabang permainan yang dicobanya.
2)
Bahasa dan perilaku
kognitif.
o Berkembang
menggunakan bahasa sandi dan mulai
tertarik mempelajari bahasa asing.
o Menggemari
literature yang bernapaskan dan mengandung erotik, fantastik, dan estetik.
o Pengamatan
dan tanggapan masih bersifat realisme kritis.
o Proses
berfikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal dalam term
yang bersifat abstrak .
o Kecakapan
dasar intelektual umumnya menjalani laju perkembangan yang terpesat.
3)
Perilaku sosial,
moralitas dan religius.
o
Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan
menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tapi bersifat temporer.
o
Adanya ketergantungan
yang kuat kepada kelompok sebaya disertai dengan konformitas yang tinggi.
o
Adanya ambivalensi
antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan
bimbingan dan bantuan dari orang tuanya.
o
Dengan sikap dan cara
berpikir yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan
kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya.
o
Mengidentifikasi
dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tokoh
idolanya.
o
Mengenai eksistensi
dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan
skeptis.
o
Penghayatan kehidupan
keagamaan sehari-hari dilakukan mungkin didasarkan atas pertimbangan adanya
semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya.
o
Masih mencari dan
menemukan pegangan hidupnya.
4)
Perilaku afektif,
konatif dan kepribadian.
o
Lima kebutuhan dasar
mulai menunjukan arah kecenderungannya.
o
Reaksi dan ekspresi
emosinya masih labil dan belum terkendali seperti marah, gembira atau
kesedihannya mungkin dapat berubah dalam tempo yang cepat.
o
Kecenderungan arah
sikap nilai mulai tampak, meskipun masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba.
o
Merupakan masa kritis
dalam rangka mengahadapi kritis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh
psikososialnya, yang akan membentuk kepribadiannya.
Rentangan usia yang biasanya terjadi dalam masa ini (untuk
remaja Indonesia) adalah antara 17 tahun sampai 21 tahun untuk wanita, dan 18
sampai 22 tahun untuk pria. Dalam rentangan masa itu terjadi proses
penyempurnaan pertumbuhan fisik dan aspek-aspek psikis yang telah dimulai sejak
masa-masa sebelumnya. Arahnya adalah kesempurnaan kematangan. Pada akhir masa
ini pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikis dan sosial terus
terjadi hingga masa dewasa awal. Sepanjang garis masa remaja akhir, mereka
secar gradual menjadi pria muda secara penuh atau ”young men” atau menjadi wanita muda secara utuh (young women) dan istilah “teenagers”.
Profil karakteristik perilaku dan pribadi yang merupakan
transisi mulai dari awal sampai berakhirnya masa remaja akhir adalah sebagai
berikut :
1)
Fisik dan perilaku
psikomotorik
2)
Bahasa dan perilaku
kognitif
3)
Perilaku sosial, moralitas
dan religious
4)
Perilaku afektif,konatif
dan kepribadian
Ciri-ciri penting dalam masa ini
(remaja akhir) yang dengan jelas membedakannya dengan remaja awal, mengenai
pola sikap, pola perasaan, pola pikir dan pola perilaku adalah sebagai berikut:
Laju proses perkembangan perilaku dan pribadi itu di pengaruhi oleh tiga
faktor dominan ialah faktor bawaan (heredeity),
kematangan (maturation), dan
lingkungan (environment) termasuk
dominan utama itu senantiasa bervariasi yang mungkin dapat menguntungkan atau
menghambat atau membatasi lajunya proses perkembangan tersebut.
Garis lintasan perpindahan dari awal sampai akhir masa remaja itu
tidaklah selalu berjalan secara lurus dan mulus, tetapi mungkin sebaliknya
berliku-liku yang tergantung atas variasi salah satu atau beberapa dari ketiga
faktor dominan tersebut. Liku-liku perkembangan yang ekstrem merupakan masalah
yang tidak mudah dibatasi, baik oleh individu yang bersangkutan maupun oleh
masyarakat secara keseluruhan. Beberapa diantaranya ialah berikut ini:
a.
Masalah-masalah
yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik, misalnya:
1.
Adanya kecanggungan yang disebabkan oleh adanya variasi
yang mencolok dalam tempo dan irama serta kepesatan laju perkembangan fisik
antara individual atau kelompok (wanita lebih cepat sekitar 1-2 tahun dari
pria).
2.
Perkembangan ukuran-ukuran tinggi dan berat
badan yang kurang proporsional, juga dapat membawa ekses psikologis tertentu,
umpamanya munculnya nama-nama cemoohan (nickname)
seperti si congcorang, si gendut, dan sebagainya. Yang lebih jauh lagi dapat
membawa ke arah self-rejection . Karena
body-image-nya tidak sesuai dengan self-picture yang diharapkannya.
3.
Perubahan suara dan peristiwa menstruasi dapat
juga menimbulkan gejala-gejala emosional tertentu seperti perasaan malu.
4.
Matangnya organ reproduksi, membutuhkan pemuasan
biologis, kalau tidak terbimbing oleh norma-norma tertentu dapat memdorong
remaja melakukan masturbasi, homosexual,
atau mencoba heterosexual yang mungkin berakibat lebih jauh lagi
berkembang penyakit kelamin, disamping merupakan pelanggaran atas norma
kesusilaan.
b.
Masalah-masalah
yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasa dan perilaku kognitif.
1.
Bagi individu-Individu tertentu, mempelajari
bahasa asing bukanlah merupakan hal yang menyenangkan. Misalnya, kelemahan-kelemahan
dalam fonetik dapat menjadi bahan cemoohan, yang bukan mustahil berakibat sikap
negatif terhadap pelajaran dan guru bahasa asing yang bersangkutan. Benci
pelajarannya dan juga terhadap gurunya.
2.
Inteligensi juga merupakan kapasitas dasar
belajar, bagi yang dianugerahi IQ yang tinggi (superior) atau dibawah rata-rata (slowlearnes), kalau kurang bimbingan yang memadai akan membawa ekses
psikologis (underachiever)
prestasinya di bawah kapasitasnya karena malas atau nakal inferiority complex- rasa
rendah diri karena tidak pernah mastery atau mencapai hasil yang diharapkan dalam
belajarnya.
3.
Kadang-kadang terjadi ketidakselarasan antara
keinginan atau minat seseorang dengan bakat khusus (aptitudes)-nya sering membawa kesulitan juga dalam memilih program
jurusan/ jenis sekolah yang akan dimasukinya, banyak kegagalan studi mungkin
bersumber pada pilihan yang kurang tepat ini.
c.
Masalah
yang timbul bertalian dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas, dan
keagamaan.
1.
Keterikatan hidup dalam gang (pers grup) yang
tidak terbimbing mudah menimbulkan juvenile
deliquency (kenakalan remaja) yang berbentuk perkelahian antar kelompok,
pencurian, perampokan, prostitusi, dan bentuk-bentuk perikalu antisosial
lainnya.
2.
Konflik dengan orang tua, yang mungkin berakibat
tidak senang dirumah, bahkan minggat melarikan diri dari rumah.
3.
Melakukan perbuatan-perbuatan yang justru
bertentangan dengan norma masyarakat atau agamanya, seperti menghisap ganja,
narkotika, dan sebagainya.
d.
Masalah
yang timbul bertalian dengan perkembangan perilaku efektif, konatif, dan
kepirbadian.
1.
Mudah sekali digerakkan untuk melakukan gerakan
atau kegiatan destruktif yang spontan untuk melampiaskan ketegangan instruktif
emosionalnya meskipin ia tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari tindakan-tindakannya
itu. Mudah terlibat kegiatan-kegiatan masa remaja.
2.
Ketikmampuan menegakkan kata hatinya membawa
akibat sukar terintegrasikan dan sintersis fungsi-fungsi psikofisiknya, yang
berlanjut akan sukar pula menemukan identitas pribadinya. Ia akan hidup dalam
suasana adlescentisme (remaja yang
berkepanjangan) meskipun usianya sudah
menginjak dewasa.
a.
Untuk
memahami dan mengurangi permasalahan yang bertalian dengan perkembangan fisik
dan perilaku psikomotorik, antara lain :
b.
Untuk
memahami dan mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang bertalian
dengan perkembangan bahasa dan perilaku kognitif, antara lain :
c.
Untuk
memahami dan mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang timbul
bertalian dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas, dan kesadaran hidup
atau penghayatan keagamaan, antara lain :
d.
Untuk
memahami dan mengurangi permasalahan yang timbul bertalian dengan perkembangan
fungsi-fungsi konatif, afektif, dan kepribadian antara lain :