ucapan selamat datang.....

Wilujeng Sumping.... ^_^

Kamis, 17 November 2011

Belajar Analisis....


Analisis PT NEWMONT NUSA TENGGARA

PT Newmont Nusa Tenggara merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tambang dengan produk utama tembaga (copper), dengan pemegang saham utama Nusa Tenggara Mining Corporation dan Sumitomo Corporation yang memiliki saham mayoritas dari PT NNT (80%), serta perusahaan local PT Pukuafu Indah Indonesia yang memegang 20% dari keseluruhan saham. Tambang Batu Hijau adalah sebuah lubang terbuka dengan pemrosesan yang terkait dan fasilitas pendukung. Produk kami adalah konsentrat tembaga Mengandung Kuantitas Kecil emas Yang Berpindah ke smelter lokal dan asing untuk diproses lebih lanjut. Proyek ini terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Batu Hijau tembaga porfiri deposit ditemukan pada tahun 1990 WS Setelah sepuluh tahun eksplorasi. Setelah Persetujuan studi kelayakan dan Analisis Dampak Lingkungan (Andales) untuk US $ 1,8 miliar proyek konstruksi dimulai pada awal 1997 dan selesai pada akhir tahun 1999, Diikuti oleh komisioning / start up. Produksi komersial dimulai pada 1 Maret 2000.
Berdasarkan studi kelayakan, bijih Batu Hijau itu cadangan ton Apakah Mengandung 0,525 1,1 miliar tembaga dan 0,37 gram per ton Persen emas. Pada tingkat produksi saat ini, kehidupan tambang Batu Hijau diperkirakan akan terus berlanjut Sampai 2023. PTNNT adalah menjelajahi bagian lain dari Kontrak Saat IMS daerah Bekerja Seperti prospek eksplorasi Elang.

Sebagai kontraktor untuk Pemerintah Indonesia, PTNNT Kontribusi substansial ke perekonomian bangsa-melalui Ketenagakerjaan, Pembelian domestik, royalti dan pajak. Saat ini, PTNNT bertanggung jawab atas lebih dari 7,000 Pekerjaan orang-orang langsung. Dari ini, Lebih dari 60 Persen berasal dari provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pada tahun 2007, PTNNT Mengkontribusikan Lebih Dari $ 248.000.000 dalam bentuk pajak, royalti dan non-pajak kepada pemerintah Indonesia. Dalam Penambahan, barang PTNNT dan layanan Pembelian tahunan dari Dalam Indonesia sebesar Lebih dari US $ 154 juta, membayar $ 58.000.000 untuk Karyawan nasional dan menghabiskan $ 4 juta dalam Pengembangan
Tahun 1986 PT NNT mendapatkan perjanjian kontrak karya, dan memulai operasional tambangnya pada tahun 2000. Luas Kontrak Karya yang didapatkan adalah sebesar 1.127.134 hektar, demgan nilai investasi awal sebesar 1,9 miliar US Dolar1.
Kontrak karya diberikan dengan perjanjian kewajiban divestasi saham asing mulai tahun 2006 hingga akhir 2010. Dengan perhitungan 20 persen saham sudah dimiliki swasta nasional, sehingga sisa saham yang harus didivestasikan sebesar 31% hingga akhir 2010. Detail divestasi dituangkan dalam ketentuan kontrak karya pasal 24 point 3.
Tahun
Divestasi Saham PT NNT
Kepemilikan Saham
PT NNT o/ pihak Indonesia
Nilai Saham yang
ditawarkan (US$ juta)
2000 s/d 2004

20 %

2006
3 %
23 %
109
2007
7 %
30 %
282
2008
7 %
47 %
426
2009
7 %
44 %
328
2010
7 %
51 %

Sumber : Bisnis Indonesia, 6 April 2009

Kronologis Divestasi Saham PT NNT
*      Pada tahun 2006 PT NNT telah menawarkan 3 persen kepada pemerintah. Namun pemerintah pusat melalui Menteri Keuangan telah menolak untuk membeli saham yang kurang lebih bernilai 109 juta US dolar tersebut dengan alasan tidak adanya anggaran. Kemudian pada tanggal 13 Februari 2007 PT NNT menawarkan divestasi saham kepada tiga pemerintah daerah di NTB, yaitu Pemda Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Pemda Kabupaten Sumbawa, dan Pemerintah Provinsi NTB. Saat itu Pemda KSB menunjukkan ketertarikan untuk membeli saham namun meminta tambahan waktu atas tawaran tersebut, dengan alasan untuk melakukan due diligence (uji tuntas) atas kinerja operasional PT NNT. Namun permohonan tersebut ditolak oleh Pemerintah Provinsi NTB walaupun pada saat itu juga menunjukkan ketertarikan untuk membeli saham tersebut. Sementara itu Pemda Kab. Sumbawa  belum memberikan tanggapan atas penawaran tersebut. Kesepakatan tiga pemerintah daerah tidak juga tercapai hingga melampui batas akhir pembelian saham pada tanggal 23 Agustus 2007. Sehingga pembelian saham sebesar 3 persen dari PT NNT batal dilakukan
*      Di tahun 2007 PT NNT kembali menawarkan divestasi saham kepada pemerintah sebesar 7 persen dengan nilai nominal mencapai 282 juta US dolar. Namun penawaran tahap kedua tersebut juga tidak ditanggapi oleh pemerintah mengenai pembelian saham, sehingga rencana divestasi kembali tertunda
*      Setelah dua kali penawaran pembelian saham gagal dilakukan, pada 11 Februari 2008 pemerintah menganggap bahwa Newmont telah lalai karena tidak juga menjual saham sesuai dengan kontrak karya. Menjawab pernyataan pemerintah tersebut, pada 26 Februari 2008 PT NNT mengajukan penundaan divestasi. Namun pengajuan tersebut ditolak oleh pemerintah, dan pada 3 Maret 2008 pemerintah mengajukan gugatan atas sengketa divestasi Newmont ke Arbitrase Internasional karena hingga tanggal tersebut PT NNT belum juga melaksanakan divestasi saham sesuai kontrak karya yang telah disepakati bersama
*      Pada tanggal 31 Maret 2009 majelis arbitrase mengumumkan secara resmi putusan yang memenangkan pemerintah Indonesia gugatannya atas kasus Divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) di Arbitrase Internasional, dengan keputusan “PT Newmont Nusa Tenggara wajib mendivestasikan 17 persen sahamnya dalam waktu 180 hari. Jika dalam waktu 180 hari sejak putusan arbitrase dikeluarkan Newmont tidak juga mendivestasikan sahamnya, maka pemerintah Indonesia berhak mencabut kontrak karyanya.”.
Dan pada tahun Pusat Investasi Pemerintah (PIP)  Kementerian Keuangan resmi membeli 7% saham Nusa Tenggara Partnership BV di Newmont Nusa Tenggara  senilai US$ 246,8 juta. 
Maka Kepemilikan PT Newmont Nusa Tenggara :
1.   Berdasarkan Laporan Newmont Mining Corporation (NMC) kepada Badan Pengawas Pasar Modal Amerika Serikat pada Mei 2011, menyebutkan, 49 persen saham Newmont Nusa Tenggara dikuasai NMC dan Sumitomo. Sisanya dimiliki oleh PT Indonesia Masbaga Investama 22 persen, Pusat Investasi Pemerintah 7 persen, Pukuafu Group 17,8 persen dan PT Multi Daerah Bersaing, 24 persen.
2.  Berdasarkan data ICW per November 2011 komposisi pemegang saham NNT adalah Newmont & Sumitomo (NTP) 49%, Multi Daerah Bersaing (MDB) 24%, Pukuafu Indah (PI) 17,8%, Indonesia Masbaga Investama (IMI) 2,2% dan Pemerintah RI 7% yang kesemuanya berjumlah 51% dan merupakan pengendali atau operator.
Akan tetapi untuk secara sah menggengam tujuh persen saham NNT yang dibeli lewat Pusat Investasi Pemerintah (PIP), pemerintah pusat masih harus menunggu penetapan dari BKPM. Dalam divestasi ini pula terdapat beberapa perdebatan, salah satunya adalah sebagian anggota DPR Komisi VII menolak pembelian 7% saham NNT oleh PIP, dan akan meminta audit oleh BPK,
       Dalam konteks pembelajaran dan transparansi industri tambang, audit merupakan salah satu cara untuk mengetahui kewajaran proses (peraturan) dan melihat dugaan kerugian negara.
       Jika akan dilakukan audit oleh BPK, maka seharusnya dilakukan audit menyeluruh mulai dari proses awal divestasi sebesar 24%
        Kenapa newmont menunda-nunda proses divestasi -> saham digadai (gugatan arbitrase), penjatahan saham setelah putusan arbitrase (konflik interest dst)
        Landasaan dan dasar hukum pembentukan BUMD, kerjasama BUMD dengan swasta (MC) à kewajaran kerjasama dan dampaknya bagi keuangan daerah  
Ø  Perhitungan Royalti berdasarkan ICW
      Berdasarkan laporan keuangan dan rilis yang disampaikan oleh PT NNT, selama periode 2004 – 2010 total royalti (emas, perak dan tembaga) yang mereka bayarkan kepada negara adalah sebesar US$ 138.838.123 (US$ 138,8 juta),  Sementara itu berdasarkan perhitungan ICW berdasarkan realisasi penjualan (kuantitas dan harga) serta tarif emas dan perak dalam Kontrak Karya Newmont dan tarif royalti tembaga berdasarkan PP 13/2000 jo PP 45/2003), maka seharusnya total royalti yang diterima negara adalah US$ 382.245.776 (US$ 382,2 juta). Jadi kesimpulannya terjadi kekurangan penerimaan (kerugian) negara dari royalti PT NNT selama periode 2004 – 2010 sebesar US$ 237.400.606 (US$ 237,4 juta) . Hal ini berdampak pada :
    1. Kerugian penerimaan pusat dari DBH tambang PT NNT, selama tahun 2004-2010 sebesar US$ 47.480.121 (US$ 47,5 juta)
    2. Kerugian pemerintah daerah (provinsi dan kab) dari DBH tambang PT NNT selama tahun 2004-2010 sebesar US$ 189.920.485 (US$ 189,9 juta)
Dengan adanya kontrak karya PT NNT ini sumber daya yang semakin habis, dampak kesejahteraan yang rendah sebagai akibat dari klausul kontrak yang buruk.
Jika ditilik dari ekonomi islam tentu semenjak dari awal kontrak karya yang dilakukan antara pemerintah dan PT Newmont Nusa Tenggara ini kurang tepat, meskipun pemerintah menguasai 51% saham perusahaan tersebut. Karena dalam sistem perekonomian islam telah dijelaskan bahwa air, api, dan tanah harus dikuasai / dikelola oleh negara. Oleh karena itu dikarenakan objek utama dari perusahaan ini termasuk ke dalam salah satu kategori diatas maka sebaiknya pertambangan ini / perusahaan ini dikelola seutuhnya oleh negara.



1.        Said Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana keempat dimensi tersebut saling berhubungan satu sama lainnya. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu :
1)             Kurikulum sebagai suatu ide/ gagasan
Pada dasarnya kurikulum sebagai dimensi yang berkaitan dengan ide mengandung makna bahwa kurikulum merupakan sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya. Kurikulum ini dihasilkan melalui teori- teori dan penelitian khususnya di bidang kurikulum dan pendidikan. Contoh dari kurikulum sebagai ide yaitu tujuan pendidikan nasional.
2)             Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide
Pada dasarnya kurikulum sebagai dimensi yang berkaitan dengan rencana mengandung makna seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan untuk pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan tertentu. Contoh dari dimensi ini ialah rancangan proses pembelajaran ( RPP )
3)             Kurikulum sebagai aktivitas atau sering disebut juga kurikulum sebagai suatu realita, yang secara teoritis merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis.
Dalam dimensi ini kurikulum dipandang sebagai segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Contoh dari dimensi ini ialah praktek pembelajaran/ proses belajar mengajar.
4)             Kurikulum sebagai hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan
Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan menjadi tujuan dari kurikulum tersebut. Dimensi ini merupakan dapat dilihat dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik. Contohnya ialah tes baik tulis maupun tulisan dan ujian nasional.
2.        Secara umum terdapat empat landasan pokok dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1.      Landasan Filosofis
Yaitu asumsi – asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Asumsi – asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada perumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik.
2.      Landasan Psikologis
Yaitu asumsi yang didasarkan dan bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
3.      Landasan Sosial Budaya
Yaitu asumsi – asumsi yang bersumber dari sosiologi dan antrofologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan demikian, kurikulum dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

4.      Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ( Iptek )
Yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari hasil – hasil riset atau penelitian dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang menjadi titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

3.        Kurikulum merupakan suatu sisten yang memiliki komponen – komponen tertentu. Komponen – komponen tersebut di gambarkan dalam bagan di bawah

Sistem Kurikulum

Bagan tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh empat komponen, yaitu :
1.        Komponen Tujuan
Komponen ini berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro tujuan ini erat kaitannya dengan sistem nilai yang di anut masyarakat. Dan dalam skala mikro tujuan ini berhubungan dengan visi dan misi sekolah serta tujuan – tujuan yang lebih sempit, misalnya tujuan mata pelajaran. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu :
a)      Tujuan Pendidikan Nasional
b)      Tujuan Institusional
c)      Tujuan Kurikuler
d)     Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran
2.        Komponen Isi
Komponen ini berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
3.        Komponen Metode
T. rakajoni mengartikan strategi pembelajaran sebagai pola dan urutan umum pembuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dari pengertian di atas, ada dua hal yang patut kita cermati, pertama strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan sebagai sumber daya/ kekuatan dalam pembelajaran. Ini berati menyusun strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua strategi di sususn untuk mencapai tujuan tertentu .artinya, arah dari semua penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagia fasilitas dan sumber belajar semuanya semuanya diarahkan dalam upaya pencapain tujuan.
4.        Komponen Evaluasi
Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum”. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Sementara itu, Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum, yaitu meliputi ; “ objective, it’s scope, the quality of personnel in charger of it, the capacity of students, the relative importance of various subject, the degree to which objectives are implemented, the equipment and materials and so on.”

4.        Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan prinsip relevansi.
Ada dua macam relevansi, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi, atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Ada 3 macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum: Pertama, relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Kedua, relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Ketiga, relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya, bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenhi dunia kerja.
5.        Pengalaman belajar di dalamnya mencakup tahapan – tahapan belajar dan isi atau materi belajar. Sehingga guru sebaiknya membangun real-world tasks, yaitu pembelajaran yang berisi contoh ujaran bahasa Indonesia dari wacana autentik dan aktual. Harapannya, input yang diterima siswa adalah input bermakna (comprehensible input), bukan semata-mata input yang direkayasa (modified input) sebagai pengalaman belajar siswa. Selain itu, sebagai contoh pengalaman nyata dalam belajar bahasa yaitu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat pengguna bahasa tersebut.

Manajemen Operasi

Manajemen Operasi merupakan usaha-usaha  pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya – sumber daya ( atau sering disebut factor-faktor produksi ) – tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya – dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa.

ü   Empat  keputusan penting di dalam manajemen operasi, yaitu :
1.             Proses
2.             Kapasitas
3.             Kualitas
4.             Persediaan

ü   Dasar untuk strategi operasi
1.             Corporate strategi adalah menentukan bisnis-bisnis yang sedang dan akan dijalankan oleh perusahaan.
2.             Bussiness strategi adalah menentukan bagaimana bersaing pada suatu bisnis tertentu.
3.             Operation mission adalah fungsi pokok operasi yang terkait dengan bisnis strategidan fungsional strategi lainnya.
4.             Operation objektif

Ruang Lingkup dan Perkembangan Manajemen Operasi

ü   Ruang lingkup manajemen operasi
·           Perencanaan
·           Pengendalian
·           Sistem Operasi

ü   Design proses fisik untuk produksi barang dan jasa menyangkut serangkaian keputusan tentang :
1.             Seleksi Proses, berkaitan dengan keputusan mengenai tipe/jenis proses produksi dan peralatan tertentu yang digunakan.
2.             Pemilihan Teknologi
3.             Perencanaan Proses



1.         Aliran Garis
Pada aliran ini proses dari bahan mentah sampai menjadi produk akhir dan urutan proses dari bahan mentah sampai menjadi produk akhirnya dan urutan operasi-operasi yang digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa selalu tetap. Produk harus di standarisasi dengan baik dan harus mengalir dari satu operasi atau tempat kerja ke operasi berikutnya dengan urutan yang telah ditetapkan sebelumnya.


Kelemahan :
*      Tidak fleksibel
*      Tingkat efisiensinya tinggi untuk menutupi biaya peralatan khusus melalui produksi dalam volume yang besar.
*      Lini produk standar yang relative stabil sepanjang waktu
*      Sulit dan mahal untuk mengubah produk atau volume produk

2.         Aliran Intermitten
Ialah proses produksi dengan membagi jobshop (kelompok kerja) yang sejenis pada interval waktu yang terputus-putus sehingga bersifat fleksibel. Cocok untuk volume barang yang rendah.




 








Ciri-ciri :
·           Produksinya dalam kumpulan-kumpulan atau kelompok-kelompok yang sejenis pada interval – interval waktu yang terputus-putus
·           Peralatan dan tenaga kerja diatur/ diorganisasi dalam pusat-pusat kerja menurut tipe – tipe keterampilan atau peralatan yang serupa.

3.         Proyek
Digunakan untuk memproduksi produk-produk khusus atau unik, seperti kapal, pesawat terbang, peluru, dan sebagainya. Meskipun tidak ada aliran  produk bagi suatu proyek tetapi ada urutan operasi-operasi dimana seluruh operasi atau kegiatan individual harus diurutkan.



 










PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK
( Apa, Berapa, dan Bagaimana Produk Dibuat )

ü   Sumber Ide / Gagasan Pengembangan Produ
1)             Sumber Internal
·      Bagian penelitian dan pengembangan
·      Konsultan pemasaran yang bekerja untuk perusahaan.
·      Tenaga penjual.
·      Peran aktif dari seluruh pihak yang ada dalam perusahaan.
2)             Sumber ekstern
·      Kecenderungan pasar.
·      Produk yang dikeluarkan oleh pesaing.
·      Masukan / komplain dari pelanggan.
·      Hasil Peramalan.

ü   Beberapa alternatif pengembangan produk baru adalah :
1.      Mengembangkan produk yang benar-benar baru
2.      Penambahan produk yang telah ada ( Diversifikasi Produk )
Diversifikasi produk dapat dilakukan dengan beberapa alternatif berikut ini :
a.      Diversifikasi konsentrik, masih ada hubungan teknologi dan kegunaan. Sebagai contoh Perusahaan mobil (Suzuki, Honda, dll) yang juga memproduksi sepeda motor. Mobil dan motor secara umum memiliki teknologi yang relatif sama (otomotif), namun keduanya masih memiliki kegunaan yang sama, yakni sebagai alat transportasi.
b.      Diversivikasi horizontal, masih ada hub. Teknologi meskipun kegunaan berbeda. Sebagai contoh Mitsubishi yang menghasilkan produk mobil, tapi juga memproduksi pendingin udara (AC), dimana keduanya memilki kegunaan yang berbeda.
c.       Diversifikasi konglomerat, tidak ada hubungan apapun dengan produk lama, artinya antara produk yang satu dan produk baru berikutnya tidak memiliki keterkaitan baik secara teknologi maupun secara kegunaan. Perhatikan kelompok usaha “INDO”. Indocement, bergerak di bidang produksi semen. Indomobil, bergerak di bidang industri otomotif. Indomart, dibidang ritel, dan “indo’-‘Indo’ yang lain. Intinya, antara satu ‘Indo’ dengan ‘Indo’ yang lain, produknya memiliki karakteristik yang sangat jauh berbeda.

3.      Modifikasi produk yang sudah ada
a.      Perbaikan produk lama. Perbaikan ini dilakukan untuk menyempurnakan fungsi produk yang telah ada. Sebagai contoh, perusahaan memperbaiki kemampuan menangkap sinyal dari sebuah handphone yang sebelumnya sinyalnya kurang kuat.
b.      Efisiensi produk lama. Efisiensi dilakukan disamping untuk mengefisienkan biaya produksi, sehingga harganya menjadi lebih murah, namun juga agar konsumen tetap mampu membeli meski kondisi ekonomi mungkin sedang kurang baik. Sebagai contoh perusahaan mengeluarkan produk dengan kemasan yang lebih kecil
c.       Penambahan manfaat produk lama. Penambahan manfaat untuk lebih bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen yang semakin bertambah. Sebagai contoh, perusahaan melengkapi produk handphone-nya dengan berbagai fitur tambahan, seperti fasilitas kamera, pemutar musik, dll.
d.      Pelengkap produk lama. Mencipakan produk baru untuk melengkapi produk yang telah ada juga dilakukan untuk lebih bisa memuaskan konsumen, seperti penciptaan asesoris tambahan produk otomotif maupun handphone, misalnya.
4.      Mengembangkan produk lokal yang belum ada
Pengembangan produk lokas yang belum ada juga dapat menjadi sebuah alternatif, khususnya bagi produk-produk (seperti obat-obatan, onderdil mobil, dsb) yang selama inihanya didatangkan dari luar negeri.
5.      Meniru produk yang sudah ada di pasar

ü   Tahap-tahap pengembangan produk baru
1.      Identifikasi produk yang telah ada ( produk lama )
2.      Mencari dan menggali ide-ide tentang produk baru
3.      Menyaring ide-ide yang ada
4.      Menganalisis masing-masing ide yang telah tersaring
5.      Menentukan ide yang paling mungkin dikembangkan
6.      Melaksanakan pengembangan ide produk baru tersebut
7.      Membuat sampel dan menguji produk baru
8.      Menguji produk baru di pasar ( Tes pemasaran )
9.      Memproduksi dan memasarkan produk baru tersebut dalam arti yang sesungguhnya
10.  Melakukan pelayanan purna jual

ü   Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan perencanaan produk baru tersebut
diantaranya adalah :
1.      Identifikasi masalah produk lama yang kurang tepat
2.      Kurangnya ide-ide yang masuk
3.      Pemilihan ide yang kurang tepat
4.      Kekurangan-kekurangan dalam produk tersebut
5.      Pengenalan produk baru yang kurang efektif
6.      Biaya pengembangan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan
7.      Adanya reaksi pesaing
8.      Waktu peluncuran yang tidak tepat
9.      Pelayanan purna jual yang kurang baik


ü   Reliabilitas (Kehandalan) dalam pengembagan produk baru
Produk yang diciptakan haruslah :
1.        Memiliki perkiraan umur atau lama penggunaan yang baik, semakin lama umur produk dan semakin lama produk tersebut dapat digunakan sesuai fungsinya, semakin handal-lah produk tersebut.
2.        Mampu berfungsi untuk penggunaan normal, apalagi penggunaan ekstrim. Sebagai contoh, sepatu yang digunakan oleh seorang eksekutif tentunya lebih awet karena mereka naik mobil, namun jika sepatu yang sama digunakan oleh misalnya pekerja biasa yang harus naik turun ganti kendaraan dan berjalan cukup jauh, namun tetap awet, maka sepatu tersebut berarti handal.
3.        Tidak terlalu tergantung dengan komponen-komponen kritikal. Sebagai contoh, sebuah handphone yang antenenya patah, namun tetap bisa menerima telephone dengan baik, berarti produk tersebut handal.
4.        Ketergantungan pada kerusakan salah satu bagian, kecil
5.        Seberapa komponen yang rusak dapat diperbaiki, semakin cepat semakin baik
6.        Mudah perawatannya


ü   Perencanaan dan perancangan jasa
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan di dalam perancangan jasa adalah :
1.        Lini pelayanan yang akan diberikan,
2.        Ketersediaan pelayanan,
3.        Tingkat pelayanan,
4.        Garis tunggu dan kapasitas pelayanan,


PERAMALAN (FORECASTING)

ü  Peramalan adalah seni ilmu yang memprediksi kejadian yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang.

ü  Cara untuk mengurangi kesalahan dalam peramalan yaitu :
1.      Mengurangi kesalahan melalui peramalan yang terbaik
2.      Membuat fleksibilitas dari operasi produksi

ü  Kepentingan Strategi Peramalan
*   Peramalan adalah satu-satunya cara untuk memprediksi permintaan hingga permintaan sebenarnya diketahui.
*   Dampak peramalan produk pada tiga aktivitas yaitu : SDM, kapasitas dan manajemen rantai pasokan.

ü  Jenis Peramalan
1.         Peramalan ekonomi
2.         Peramalan Teknologi
3.         Peramalan Permintaan

ü  Metode Peramalan
*      Top-down Forecasting         : penggunaan hasil peramalan berbagai kondisi bisnis umum.
*      Bottom Up Forecasting        : dimulai dari perkiraan produk akhir Individual.

ü  Langkah-langkah Peramalan
1.      Menetapkan tujuan peramalan
2.      Memilih unsure apa yang akan diramal
3.      Menentukan horizon waktu peramalan
4.      Memilih tipe model peramalan
5.      Mengumpulkan data yang diperlukan untuk melakukan peramalan.
6.      Membuat peramalan
7.      Menerapkan hasil peramalan

ü  Teknik Peramalan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
1.      Teknik Kualitatif
2.      Teknik Kuantitatif
                         a          Model-model Regresi
                         b          Model Ekonometrik
                         c          Model Time Series Analysis (Deret Waktu)